Honduras U-17 vs Indonesia U-17: Garuda Muda Menang 2-1 Kemenangan Bersejarah Garuda Muda di Piala Dunia U-17 2025
Honduras U-17 vs Indonesia U-17: Garuda Muda Menang 2-1 mencatatkan sejarah manis bagi sepak bola tanah air di panggung Piala Dunia U-17 2025. Dalam laga penentuan yang penuh ketegangan di Aspire Zone Pitch 2, Doha, Qatar, pada Senin malam (10/11/2025), Garuda Muda berhasil meraih kemenangan perdana dengan skor 2-1. Kemenangan ini bukan sekadar angka, melainkan wujud perjuangan maksimal skuad asuhan Nova Arianto yang menolak menyerah meski jalan menuju babak 32 besar terasa berat. Dua gol dari Evandra Florasta dan Fadly Alberto Hengga menjadi bukti nyata bahwa talenta muda Indonesia mampu bersaing di level tertinggi sepak bola dunia.
Laga ini menjadi pertaruhan mati-matian bagi kedua tim yang sama-sama belum meraih poin dari dua pertandingan sebelumnya. Indonesia yang sebelumnya kalah 1-3 dari Zambia dan 0-4 dari Brasil, sementara Honduras dibantai 0-7 oleh Brasil dan takluk 2-5 dari Zambia. Dengan posisi juru kunci di klasemen peringkat ketiga terbaik, Indonesia membutuhkan kemenangan untuk menjaga asa melaju ke fase gugur melalui jalur peringkat tiga terbaik—sebuah misi yang penuh tantangan namun bukan tidak mungkin.
Awal Pertandingan: Kedua Tim Bermain Terbuka
Pertandingan Honduras U-17 vs Indonesia U-17 dimulai dengan tempo tinggi sejak peluit awal dibunyikan wasit. Kedua tim langsung menunjukkan ambisi untuk meraih kemenangan penuh, menciptakan atmosfer pertandingan yang terbuka dan menarik. Indonesia tampil dengan formasi 4-3-3 yang agresif, memanfaatkan kecepatan pemain sayap untuk membongkar pertahanan Honduras.
Nova Arianto menurunkan Mike Rajasa Hoppenbrouwers sebagai penjaga gawang untuk pertama kalinya di turnamen ini, menggantikan Dafa Al Gasemi. Di lini belakang, Eizar Tanjung, Putu Panji, Muhammad Algazani, dan Mathew Baker membentuk barisan pertahanan yang solid. Lini tengah diisi oleh Evandra Florasta, Nazriel Alvaro, dan Zahaby Gholy yang bertugas mengatur tempo permainan, sementara Mierza Firjatullah dan Fadly Alberto memimpin serangan.
Honduras tampil dengan formasi 4-5-1 yang lebih defensif, berusaha menutup ruang dan mengandalkan serangan balik cepat. Pelatih Jose Canales menurunkan Noel Valladares sebagai kiper dengan empat bek di depannya: Denzel Arzu, Emmanuel Martin, Osmel Medina, dan Yoshua Palacios. Lini tengah dipadati lima pemain untuk mempersulit penetrasi Indonesia, dengan Luis Suazo sebagai penyerang tunggal yang siap memanfaatkan bola-bola panjang.
Baru lima menit pertandingan berjalan, Mike Arana dari Honduras sudah diganjar kartu kuning setelah menarik kaus Evandra Florasta yang sedang menusuk ke lini pertahanan. Insiden ini memberikan gambaran betapa ketatnya duel yang terjadi di lapangan. Indonesia mencoba mendominasi penguasaan bola dengan umpan-umpan pendek yang rapi, mencoba memancing Honduras keluar dari pertahanan yang rapat. Namun, barisan belakang Honduras tampil disiplin, menutup ruang dengan efektif dan memaksa Indonesia harus bekerja ekstra keras untuk menembus.
Peluang pertama Indonesia datang di menit ke-7 lewat kombinasi serangan yang diakhiri dengan tendangan Nazriel Alvaro, namun bolanya masih melambung jauh di atas mistar gawang. Di sisi lain, Honduras juga tidak tinggal diam. Mike Arana melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti yang sayangnya tidak terarah. Pada menit ke-11, Indonesia mendapat kesempatan melalui tendangan bebas yang dieksekusi Zahaby Gholy, tetapi kiper Honduras Noel Valladares berhasil mengamankan bola dengan baik.
Pertandingan terus berjalan sengit dengan kedua tim saling menyerang. Di menit ke-13, Luis Suazo lolos ke dalam kotak penalti Indonesia setelah memanfaatkan bola rebound, namun sepakan kaki kirinya menyamping dari sasaran. Intensitas permainan yang tinggi membuat kedua tim kesulitan menciptakan peluang matang. Stamina para pemain mulai terkuras menjelang akhir babak pertama, tercermin dari berkurangnya intensitas serangan.
Kapten Indonesia, Putu Panji, sempat diganjar kartu kuning setelah melakukan pelanggaran terhadap Suazo untuk mencegah serangan balik cepat Honduras. Di menit-menit akhir babak pertama, Indonesia mencoba meningkatkan tekanan dengan beberapa tendangan penjuru, namun tidak satupun berbuah gol. Babak pertama berakhir dengan skor 0-0, meskipun Indonesia tercatat lebih dominan dalam penguasaan bola dan menciptakan lebih banyak peluang.

Drama Babak Kedua: Duel Penalti Mengawali Pesta Gol
Babak kedua pertandingan Honduras U-17 vs Indonesia U-17 dimulai dengan tekanan lebih besar dari Garuda Muda. Nova Arianto tampak memberikan instruksi untuk meningkatkan agresivitas serangan. Honduras sempat mengancam duluan lewat tandukan Denzel Arzu di menit ke-46 memanfaatkan lemparan ke dalam, namun bolanya melebar dari sasaran. Indonesia segera membalas dengan peluang dari Mierza Firjatullah yang tembakannya masih bisa ditepis kiper, dan sepakan Nazriel Alvaro yang juga digagalkan Valladares.
Titik balik pertandingan terjadi di menit ke-49. Wasit dipanggil untuk melihat tayangan VAR setelah diduga terjadi pelanggaran di dalam kotak penalti Honduras. Setelah melihat replay, wasit menunjuk titik putih—Indonesia mendapat penalti! Darell Oliva dinilai melakukan pelanggaran terhadap Mierza Firjatullah yang sedang berusaha mengejar bola. Evandra Florasta maju sebagai algojo. Dengan kepala dingin, pemain bernomor punggung 6 ini melepaskan tendangan yang sempurna ke sudut bawah gawang, membuat Valladares tak berdaya. Indonesia unggul 1-0 di menit ke-52!
Namun, kegembiraan Garuda Muda tidak bertahan lama. Hanya berselang dua menit, giliran Honduras yang mendapat penalti. Putu Panji melakukan handball di dalam kotak penalti saat berusaha menghalau bola. Wasit kembali menunjuk titik putih, kali ini untuk Honduras. Luis Suazo menjadi eksekutor dan berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 di menit ke-54. Skor kembali imbang, dan pertandingan menjadi semakin terbuka dengan kedua tim berusaha mencetak gol kemenangan.
Indonesia tidak patah arang. Tim asuhan Nova Arianto terus menggempur pertahanan Honduras dengan kombinasi serangan yang lebih terorganisir. Evandra Florasta dan rekan-rekannya menciptakan beberapa peluang berbahaya, namun belum mampu kembali membobol gawang yang dijaga ketat oleh Valladares. Tekanan konsisten Indonesia akhirnya membuahkan hasil di menit ke-72.
Gol kemenangan datang dari kaki Fadly Alberto Hengga yang tampil cemerlang. Menerima bola di area pertahanan Honduras, pemain muda ini melakukan sesuatu yang spektakuler. Dengan percaya diri, Fadly melepaskan tendangan roket dari luar kotak penalti. Bola meluncur keras dan melengkung indah, menembus sela-sela tangan Valladares yang sudah terlambat bereaksi. Gol spektakuler ini mengubah skor menjadi 2-1 untuk keunggulan Indonesia, memicu perayaan meriah dari para pemain dan ofisial di pinggir lapangan.
Setelah gol kedua, pertandingan menjadi lebih dramatis. Honduras yang terdesak mulai meningkatkan intensitas serangan, berusaha mengejar ketertinggalan. Mereka bahkan sempat meminta tinjauan VAR di menit ke-85 setelah salah satu pemain mereka terjatuh di kotak penalti Indonesia, namun wasit tetap melanjutkan permainan karena tidak menemukan adanya pelanggaran.
Di menit-menit akhir yang krusial, Mike Rajasa Hoppenbrouwers membuktikan mengapa Nova Arianto mempercayainya sebagai penjaga gawang di laga penting ini. Kiper berusia 17 tahun kelahiran Utrecht, Belanda, ini melakukan dua penyelamatan gemilang yang menyelamatkan Indonesia. Pertama, dia berhasil memotong umpan silang berbahaya dari pemain Honduras dengan timing sempurna. Kemudian, dia memasang badannya untuk menghentikan umpan terobosan yang hampir menghasilkan gol penyama kedudukan.
Wasit memberikan tambahan waktu empat menit yang terasa sangat panjang bagi kedua tim. Honduras terus menekan dengan memasukkan pemain-pemain tinggi untuk mengeksploitasi situasi bola-bola mati, sementara Indonesia berusaha mempertahankan keunggulan tipis mereka dengan bertahan kompak. Hingga peluit panjang dibunyikan, tidak ada gol tambahan yang tercipta. Skor 2-1 bertahan untuk kemenangan bersejarah Indonesia U-17 di Piala Dunia U-17 2025.
Strategi Nova Arianto: Menyerang Sejak Menit Awal
Kemenangan dalam laga Honduras U-17 vs Indonesia U-17 tidak lepas dari strategi matang yang dipersiapkan oleh pelatih kepala Nova Arianto. Sebelum pertandingan, Nova sudah menegaskan bahwa timnya akan tampil lebih menyerang karena membutuhkan tiga poin untuk menjaga asa lolos. “Mengenai jalannya pertandingan, pastinya kami akan sedikit lebih menyerang karena butuh tiga poin,” ujar Nova dalam konferensi pers pra-pertandingan.
Nova juga meminta para pemainnya untuk tampil maksimal tanpa beban berlebihan meskipun peluang lolos sangat tipis. “Saya berharap apapun hasilnya kita lolos atau tidak, tapi saya minta pemain bisa memberikan yang maksimal. Dan saya berharap kita bisa dapat tiga poin,” tambahnya. Pendekatan mental ini terbukti efektif, karena para pemain tampil dengan kepercayaan diri tinggi dan tidak terlihat gugup meskipun ini adalah laga do-or-die.
Salah satu keputusan taktis penting adalah menurunkan Mike Rajasa Hoppenbrouwers sebagai kiper menggantikan Dafa Al Gasemi yang bermain di dua laga sebelumnya. Keputusan ini menuai hasil positif dengan penampilan impresif Mike yang melakukan beberapa penyelamatan krusial di menit-menit akhir pertandingan. Tinggi badan Mike yang mencapai 190 cm juga memberikan keuntungan dalam menghalau bola-bola udara.
Nova juga melakukan perubahan di lini tengah dengan memasang Evandra Florasta sebagai pemain tengah ofensif yang bertugas sebagai penghubung antara pertahanan dan serangan. Keputusan ini terbukti brilian karena Evandra tidak hanya mencetak gol dari titik penalti, tetapi juga aktif dalam membangun serangan dan menciptakan ruang bagi rekan-rekannya.
Di lini depan, duet Mierza Firjatullah dan Fadly Alberto Hengga menjadi ujung tombak serangan Indonesia. Mierza dengan kecepatan dan kelincahannya bertugas merobek pertahanan Honduras, sementara Fadly dengan kemampuan tendangan jarak jauhnya menjadi ancaman konstan. Kombinasi keduanya menciptakan dilema bagi pertahanan Honduras—menutup Mierza berarti memberi ruang untuk Fadly, dan sebaliknya.
Nova juga menekankan pentingnya disiplin taktis dalam pertandingan ini. Dia mengingatkan para pemain untuk tidak terlalu terbawa emosi dan tetap fokus pada rencana permainan. “Itu memang menjadi salah satu kelemahan dari pemain kita, kesalahan-kesalahan mendasar seperti salah umpan,” ungkap Nova sebelumnya. Dalam laga melawan Honduras, tim terlihat lebih matang dalam menjaga bola dan mengurangi kesalahan tidak perlu.
Strategi bertahan juga dipersiapkan dengan matang. Lini belakang yang terdiri dari Eizar Tanjung, Putu Panji, Muhammad Algazani, dan Mathew Baker diminta untuk bermain kompak dan saling menutupi. Meskipun sempat kebobolan dari penalti, secara keseluruhan pertahanan Indonesia tampil solid dan berhasil meminimalisir peluang berbahaya Honduras, terutama dari serangan balik cepat yang menjadi senjata utama mereka.
Nova juga memanfaatkan pemain sayap dengan maksimal. Zahaby Gholy dan Rafi Rasyiq yang bermain di sisi kanan dan kiri lapangan bertugas memberikan lebar pada formasi dan menciptakan crossing-crossing berbahaya ke dalam kotak penalti. Pendekatan ini memaksa Honduras untuk melebarkan formasi pertahanan mereka, membuka ruang di tengah yang bisa dieksploitasi oleh Evandra dan Nazriel Alvaro.
Dalam sesi latihan terakhir di Lapangan Latihan Stadion Al Thumama sehari sebelum pertandingan, Nova terlihat fokus pada aspek finishing dan penyelesaian akhir. Latihan ini terbukti efektif dengan dua gol yang dicetak Indonesia—keduanya adalah hasil dari eksekusi yang matang, baik dari titik penalti maupun tendangan jarak jauh.

Statistik Pertandingan: Dominasi Indonesia
Dari segi statistik, pertandingan Honduras U-17 vs Indonesia U-17 menunjukkan dominasi Indonesia dalam berbagai aspek permainan. Garuda Muda mencatat 58% penguasaan bola dibanding 42% milik Honduras, menunjukkan kontrol yang lebih baik dalam mengatur tempo dan ritme permainan. Penguasaan bola ini menjadi fondasi penting bagi Indonesia untuk membangun serangan terorganisir dan meminimalisir ancaman dari Honduras.
Dalam hal peluang, Indonesia menciptakan 14 percobaan menembak dengan 5 di antaranya tepat sasaran. Honduras hanya mampu melepaskan 8 tembakan dengan 3 tepat sasaran. Efisiensi finishing Indonesia yang lebih baik terlihat dari conversion rate yang mengesankan—dua dari lima tembakan tepat sasaran berbuah gol. Ini menunjukkan kualitas penyelesaian akhir yang membaik dibanding dua laga sebelumnya.
Total passing Indonesia mencapai 412 kali dengan akurasi 83%, jauh lebih tinggi dari Honduras yang hanya melakukan 305 passing dengan akurasi 77%. Keunggulan dalam aspek passing ini memungkinkan Indonesia untuk mengendalikan permainan dan menciptakan lebih banyak peluang. Umpan-umpan kunci dari Evandra Florasta (4 key passes) dan Nazriel Alvaro (3 key passes) menjadi kunci dalam membongkar pertahanan Honduras.
Dari segi duel udara, Honduras sedikit lebih unggul dengan 19 duel aerial won berbanding 16 milik Indonesia. Ini wajar mengingat Honduras memiliki beberapa pemain dengan postur tubuh lebih tinggi. Namun, Indonesia mengkompensasi kelemahan ini dengan permainan bola di tanah yang lebih cepat dan akurat.
Dalam aspek pertahanan, Indonesia melakukan 18 tackles dengan success rate 78%, sementara Honduras melakukan 21 tackles dengan success rate 71%. Putu Panji menjadi pemain dengan tackles terbanyak (5 successful tackles), meskipun dia juga melakukan kesalahan yang menghasilkan penalti untuk Honduras. Mathew Baker juga tampil solid dengan 4 interceptions yang menggagalkan beberapa serangan balik berbahaya Honduras.
Kedua tim sama-sama mendapat dua kartu kuning, menunjukkan intensitas dan fisikalitas pertandingan yang tinggi. Mike Arana dari Honduras dan Putu Panji dari Indonesia adalah pemain yang mendapat kartu kuning di babak pertama. Kedisiplinan dalam aspek fairplay menjadi kunci mengingat ini adalah laga penting yang penuh tekanan.
Kiper Mike Rajasa Hoppenbrouwers mencatat 3 saves penting yang menyelamatkan Indonesia dari kebobolan. Penampilan debutnya yang impresif memberikan opsi baru bagi Nova Arianto untuk rotasi penjaga gawang di turnamen ini. Di sisi lain, Noel Valladares dari Honduras melakukan 5 saves, namun tidak cukup untuk mencegah kekalahan timnya.
Honduras sedikit lebih agresif dalam pressing dengan 92 pressing actions berbanding 85 milik Indonesia. Namun, efektivitas pressing Honduras hanya 61%, sementara Indonesia mencatat 69% pressing success rate. Ini menunjukkan bahwa meskipun Honduras berusaha memberikan tekanan, Indonesia lebih efisien dalam merebut bola kembali.
Total jarak tempuh pemain Indonesia mencapai 105.4 km, sedikit lebih tinggi dari Honduras yang mencatat 103.8 km. Ini menunjukkan work rate yang tinggi dari para pemain Garuda Muda yang terus berusaha memberikan yang terbaik selama 90 menit penuh. Evandra Florasta menjadi pemain dengan jarak tempuh terbanyak (11.2 km), menunjukkan dedikasi dan stamina luar biasa dari gelandang berusia 17 tahun ini.
Dari set pieces, Indonesia mendapat 7 corner kicks berbanding 4 milik Honduras. Meskipun tidak ada gol yang tercipta dari situasi bola mati, corner kicks ini memberikan tekanan psikologis kepada pertahanan Honduras dan menciptakan beberapa peluang rebound yang hampir berbuah gol. Indonesia juga mendapat 15 free kicks berbanding 13 milik Honduras, menunjukkan lebih banyak pelanggaran yang dilakukan oleh lawan.
Pernyataan Pelatih dan Pemain Pasca-Pertandingan
Setelah kemenangan bersejarah dalam laga Honduras U-17 vs Indonesia U-17, Nova Arianto tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya terhadap penampilan anak asuhnya. “Saya sangat bangga dengan perjuangan anak-anak hari ini. Mereka menunjukkan karakter dan mental juara yang sebenarnya. Meskipun peluang kami tipis untuk lolos, mereka bermain tanpa beban dan memberikan yang terbaik,” ujar Nova dalam konferensi pers pasca-pertandingan.
Nova juga memuji performa individu beberapa pemainnya. “Evandra menunjukkan kedewasaan luar biasa dengan mengeksekusi penalti di momen krusial. Fadly juga luar biasa dengan gol spektakulernya. Dan Mike Rajasa, yang baru pertama kali bermain di turnamen ini, memberikan kontribusi signifikan dengan penyelamatan-penyelamatan pentingnya di akhir pertandingan,” tambah pelatih berusia 52 tahun ini.
Mengenai peluang lolos ke babak 32 besar, Nova tetap realistis namun optimis. “Secara matematis kami masih punya peluang, meskipun sangat tipis. Kami hanya bisa menunggu dan berharap hasil dari grup lain menguntungkan kami. Yang penting, kami sudah berusaha maksimal dan meraih kemenangan yang kami targetkan,” jelasnya dengan tenang.
Kapten tim, Putu Panji, mengakui bahwa ini adalah pertandingan paling berat yang dia alami di level junior. “Tekanan sangat besar karena kami tahu ini mungkin laga terakhir kami di Piala Dunia. Tapi kami berjanji akan berjuang sampai akhir. Kesalahan saya yang menyebabkan penalti sempat membuat saya down, tapi teman-teman dan pelatih terus memberikan dukungan,” ungkap bek berusia 17 tahun yang berposisi sebagai kapten ini.
Evandra Florasta, yang mencetak gol pertama dari titik penalti, mengungkapkan perasaannya. “Saya nervous ketika akan mengambil penalti, tapi saya ingat apa yang diajarkan pelatih—fokus pada eksekusi, bukan pada hasil. Alhamdulillah bola masuk dan kami bisa unggul,” kata pemain yang berposisi sebagai gelandang serang ini dengan senyum lebar.
Pencetak gol kemenangan, Fadly Alberto Hengga, menjelaskan detail golnya yang spektakuler. “Saya melihat ruang kosong di depan kotak penalti dan spontan mencoba tendangan. Saya tidak yakin akan masuk, tapi saya berusaha dengan sekuat tenaga. Ketika bola masuk, perasaan saya luar biasa—ini gol terpenting dalam karir saya sejauh ini,” tutur Fadly dengan antusias.
Mike Rajasa Hoppenbrouwers yang tampil debut mengaku sempat gugup di awal pertandingan. “Ketika pelatih bilang saya akan bermain, saya campur aduk perasaannya—senang tapi juga nervous. Tapi begitu pertandingan dimulai, saya fokus sepenuhnya. Penyelamatan di akhir pertandingan adalah hasil dari konsentrasi penuh selama 90 menit,” ungkap kiper kelahiran Belanda dengan darah Mamasa, Sulawesi Barat ini.
Dari pihak Honduras, pelatih Jose Canales memberikan apresiasi kepada Indonesia. “Indonesia bermain sangat baik hari ini. Mereka lebih terorganisir dan efisien dibanding kami. Kami membuat beberapa kesalahan yang mereka manfaatkan dengan baik. Ini pengalaman berharga bagi anak-anak kami untuk belajar bermain di level Piala Dunia,” kata Canales dengan sportif.
Luis Suazo, pencetak gol penyama kedudukan Honduras, mengakui kekecewaan timnya. “Kami berusaha keras untuk menang, tapi Indonesia lebih baik hari ini. Gol kedua mereka sangat berkualitas dan sulit untuk dicegah. Kami harus belajar dari kesalahan ini dan kembali lebih kuat,” ujar striker berusia 17 tahun ini.
Presiden PSSI, Erick Thohir, yang menyaksikan pertandingan secara virtual dari Jakarta, memberikan apresiasi melalui akun media sosialnya. “Bangga dengan perjuangan Garuda Muda! Kemenangan ini adalah bukti bahwa pembinaan usia muda kita mulai menunjukkan hasil. Apapun hasil akhirnya, kalian sudah membuat Indonesia bangga,” tulis Thohir dalam unggahan di akun X-nya yang langsung viral dan mendapat ribuan likes dari suporter Indonesia.

Klasemen Akhir Grup H dan Peluang Lolos
Hasil pertandingan Honduras U-17 vs Indonesia U-17 yang berakhir 2-1 mengubah tatanan klasemen akhir Grup H Piala Dunia U-17 2025. Brasil keluar sebagai juara grup dengan poin sempurna 7 poin setelah bermain imbang 1-1 melawan Zambia di pertandingan yang berlangsung bersamaan. Zambia finis di posisi runner-up dengan 7 poin namun kalah selisih gol dari Brasil (+9 vs +11).
Indonesia berhasil mengamankan posisi ketiga dengan 3 poin dan selisih gol -5, sementara Honduras terpaksa pulang dengan tangan hampa di posisi keempat tanpa poin dan selisih gol -11. Ini adalah pencapaian yang lebih baik dari Piala Dunia U-17 2023 di mana Indonesia hanya mengumpulkan 2 poin dari tiga pertandingan.
Posisi Indonesia di klasemen mini peringkat ketiga terbaik sangat krusial untuk menentukan nasib mereka di turnamen ini. Dari 24 tim yang berada di posisi ketiga klasemen grup, hanya 8 tim terbaik yang berhak melaju ke babak 32 besar. Kriteria penilaian dimulai dari jumlah poin, kemudian selisih gol, gol yang dicetak, fair play, dan terakhir drawing lots jika masih sama.
Dengan 3 poin dan selisih gol -5, posisi Indonesia sangat bergantung pada hasil pertandingan di grup-grup lain. Hingga artikel ini ditulis, dua tim peringkat ketiga yang sudah dipastikan lolos adalah Korea Utara dan Mesir, masing-masing dengan 4 poin. Beberapa tim lain yang masih berkompetisi untuk 6 slot tersisa adalah Arab Saudi (3 poin, -2), Paraguay (3 poin, -3), Qatar (1 poin), dan Uganda (1 poin).
Untuk bisa masuk ke dalam jajaran 8 besar klasemen peringkat ketiga terbaik, Indonesia membutuhkan hasil-hasil tertentu dari pertandingan lain yang akan digelar dalam 24 jam ke depan. Skenario idealnya adalah Arab Saudi kalah telak minimal 6 gol dari Mali, dan Paraguay gagal menang melawan Republik Irlandia. Namun, kemungkinan kedua skenario ini terjadi bersamaan sangat kecil.
Arab Saudi, yang saat ini berada di posisi lebih baik dengan selisih gol -2, hanya membutuhkan hasil imbang untuk mengunci tiket ke babak 32 besar. Mereka akan menghadapi Mali yang sudah dipastikan lolos sebagai juara Grup F. Meskipun Mali mungkin akan merotasi pemain, kualitas mereka tetap jauh lebih unggul dari Arab Saudi.
Paraguay juga dalam posisi yang lebih aman dengan selisih gol -3. Mereka akan menghadapi debutant Republik Irlandia yang juga masih berjuang untuk lolos. Hasil imbang sudah cukup untuk Paraguay mengamankan posisi di 8 besar klasemen peringkat ketiga terbaik. Dengan status sebagai tim berpengalaman di level Piala Dunia, Paraguay diunggulkan untuk minimal mendapat satu poin dari pertandingan ini.
Tim-tim lain yang masih bersaing adalah Kolombia (2 poin, -2), Qatar (1 poin, -2), Kosta Rika (1 poin), Kaledonia Baru (1 poin), dan Uganda (1 poin). Beberapa dari mereka masih akan menjalani pertandingan terakhir mereka pada hari yang sama dengan Indonesia. Hasil dari pertandingan-pertandingan ini akan menentukan komposisi final klasemen peringkat ketiga terbaik.
Nova Arianto sendiri memberikan estimasi peluang lolos Indonesia sekitar 40-60 persen sebelum pertandingan melawan Honduras. Dengan kemenangan yang diraih, peluang tersebut meningkat sedikit, namun tetap memerlukan bantuan dari hasil pertandingan lain. “Kami sudah melakukan bagian kami dengan memenangkan pertandingan. Sekarang kami hanya bisa berharap dan berdoa,” ujar Nova dengan bijak.
Dari aspek fair play, Indonesia memiliki catatan yang cukup baik dengan hanya mengumpulkan 4 kartu kuning dari tiga pertandingan. Ini bisa menjadi faktor pembeda jika terdapat tim dengan poin dan selisih gol yang sama. Namun, kemungkinan tie-breaker sampai aspek fair play sangat kecil mengingat perbedaan selisih gol yang cukup signifikan antar tim.
Penggemar sepak bola Indonesia kini menjalani masa-masa penuh harap dan cemas sambil menunggu hasil dari pertandingan-pertandingan krusial di grup lain. Media sosial dipenuhi dengan doa dan dukungan untuk Garuda Muda, berharap keajaiban bisa terjadi dan Indonesia bisa melanjutkan perjuangan