Pemantauan sampah antariksa

Sampah antariksa adalah benda buatan yang mengitari bumi selain satelit yang berfungsi. Sampah ini bisa berupa bekas roket (rocket bodies), serpihan (debris) dan lain-lain.

Sampah antariksa sejak awal dapat dipantau lintasannya. Meski demikian, ilmu dan teknologi yang ada saat ini belum mampu memperkirakan secara tepat kapan dan di mana lokasi jatuhnya di permukaan bumi.

Benda berketinggian 1000 km akan mengorbit ratusan tahun sebelum jatuh tetapi benda berketinggian 500 km hanya mengorbit beberapa tahun. Apabila ketinggiannya telah berada di bawah 200 km maka umumnya benda tersebut akan jatuh 1 hingga 2 hari berikutnya. Pada umumnya suatu benda dikatakan jatuh jika mengalami atmospheric reentry pada ketinggian sekitar 120 km. Di mana lokasi jatuh sebenarnya di permukaan bumi hanya diketahui dari laporan saksi mata.

Selain ketinggian awal, usia benda di orbit juga ditentukan oleh aktivitas Matahari dan karakteristik benda. Benda yang memiliki koefisien balistik (satuannya kg/m^2) lebih besar, cenderung lebih lama di orbit daripada benda yang koefisien balistiknya lebih kecil.

Jika dirata-ratakan, satu sampah antariksa jatuh setiap hari sejak awal peluncuran satelit tahun 1957. Kebanyakan sampah ini berupa pecahan roket atau satelit yang habis terbakar di atmosfer. Hanya sepertiga dari 20 ribuan sampah yang jatuh berukuran cukup besar sehingga mampu bertahan sampai ke permukaan bumi. Benda-benda tersebut umumnya jatuh di daerah tak berpenduduk sehingga tidak membahayakan.

Lampung, 1988

Madura, 2016

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *